Peduli

Peduli berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan. Sedangkan memedulikan berarti mengindahkan, menghiraukan, memperhatikan, mencampuri (perkara orang dan sebagainya). Sekilas mungkin sukar untuk membedakan mana yang peduli dan mana pula yang mempedulikan. Karena pada dasarnya kedua hal itu butuh Kepedulian. Berbicara mengenai kepedulian memang tidak akan ada habisnya. Ya, karena itu semua merupakan sifat pasti dimiliki oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Sekali lagi setiap makhluk ciptaan-Nya pasti punya sifat peduli.

Hujan turun atas kepeduliannya terhadap makhluk di bumi yang tengah membutuhkan. Ketika hutan terbakar, manusia mengalamai kekeringan, padi semakin tegak, hewan tak mampu lagi berlari, hujan dengan segala sifat pedulinya datang menumbuhkan kembali harapan bagi setiap makhluk di bumi. Hujan memang tidak turun di setiap tempat yang ada di muka bumi, bahkan di suatu daerah saja terkadang tidak sepenuhnya daerah itu dihadiri oleh hujan. Aku menyebutnya karena hujan lebih peduli kepada daerah yang ia datangi. Walaupun setelah hujan turun, tak semuanya memilih kembali menjadi awan melainkan memilih tinggal bersama mereka yang tengah dipedulikan.

Awan yang sekilas bergerak mengikuti gerakan bumi bahkan punya bentuk kepedulian. Dengan segala kekurangannya, awan mau untuk menutupi panasnya sinar matahari yang dapat membahayakan makhluk bumi. Walaupun awan tau bahwa semakin lama ia berdiri melindungi apa yang menurutnya pantas untuk dilindungi, semakin berkurang juga apa yang ia miliki.

Bumi berputar terus menerus tanpa henti juga karena ia peduli akan segala hal yang ada di didalamnya. Tanpa lelah berputar pada porosnya, berputar dengan arah putar yang selalu sama. Begitu juga bulan, bintang, matahari. Ahhh, banyak sekali contoh nyata akan pentingnya peduli. Bersikap peduli dan mempedulikan memang tidaklah mudah. Untuk memunculkan sifat itu saja membutuhkan keteguhan jiwa, kemantapan niat. Apalagi untuk tetap tegar berada pada jalur kepedulian itu. Cercaan, cacian, makian, akan banyak dialami oleh mereka yang berusaha peduli. Hujan yang terkadang harus disalahkan karena datang disaat orang lain tidak mengharap hadirnya, awan yang disalahkan karena terlalu berusaha melindungi.

Memang, peduli itu butuh pengorbanan. Ketika pengorbanan itu terjadi, tidak ada jaminan bahwa yang dipedulikan akan merasa bentuk kepedulian kita atau bahkan mau ikut peduli. Mantapkan niat, belajar peduli adalah belajar menjadi hebat. Karena ketika kepedulian itu ada menghiasi keseharian kita, maka hal – hal hebat pasti akan terjadi. Belajarlah menghebatkan karena ketika hanya dirimu sendiri berdiri dengan kepedulianmu, tanpa ada orang lain bersamamu, akan hampa rasanya. Maka berhentilah belajar peduli sendirian, rangkul setiap jiwa, belajar peduli bersama sehingga Kebermanfaatan pasti mengikuti. PeduLillah semata mata karena niat untuk beribadah, sehingga apapun itu yang memberatkan pundakmu kelak akan menjadi ladang pahala untuk bekalmu kelak

“Jadilah Hebat dan Menghebatkan, niscaya kebermanfaatan mengikuti”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *